Validitas dan Reliabilitas

Pembukaan

Validitas dan reliabilitas merupakan hal yang penting dalam pengembangan alat ukur terutama dalam tes psikologi. Isu mengenai keabsahan suatu instrumen selalu menjadi topik utama, terutama dalam tes psikologi. Instrumen yang baik harus memiliki nilai validitas dan reliabilitas yang tinggi serta stabil. Alat ukur atau instrumen yang disusun harus benar-benar mampu mengukur keadaan sesungguhnya dan mampu memberikan gambaran tepat dari objek yang akan diukurnnya. Dalam prosesnya suatu instrumen memerlukan beberapa tahapan sehingga menghasilkan alat ukur yang valid dan realibel.

Definisi Validitas

Validitas bermakna sejauh mana alat ukur mampu menggambarkan atau memberikan hasil yang tepat terhadap apa yang di ukurnya (Anzwar, 2009), untuk menghasilkan instrumen dengan validitas tinggi bukan perkara mudah. Sebut saja tes kecerdasan milik Stanford dan Binet, untuk menghasilkan suatu alat ukur yang stabil diperlukan beberapa kali pengujian dan revisi. Tercatat alat tes intelegensi Staford- Binet membutuhkan waktu yang lama dalam pengembanganya, dimulai diterbitkan pada tahun 1905, berakhir di tahun 1970. Setelah melalui beberapa kali uji coba dan revisi maka di dapatkan alat ukur yang stabil (Anastasi & Susana, 2007).

Pada setiap alat ukur pasti memilki koefiesien validitas. Terdapat dua macam koefisien validitas yaitu koefisien validitas tinggi dan koefisien validitas rendah. Koefisien validitas tinggi terjadi ketika suatu alat ukur  sangat akurat  dalam mengukur dan menggambarkan keadaan individu. Pada koefisien validitas tinggi berarti Skor yang diperoleh individu mampu menggambarkan keadaan yang sesungghnya. Sedangkan koefisien validitas rendah terjadi ketika suatu alat ukur tidak mampu mengukur secara akurat, dimana skor yang di peroleh kurang mampu menggambarkan keadadaan individu tersebut (Abell N, David W, & Akihito K, 2009). Proses uji validitas terdapat dua macam yaitu internal dan eksternal. Validitas internal berkenaan dengan tingkat akurasi desain penelitian dengan hasil yang ingin dicapai. Validitas internal berfungsi untuk  melihat sejauh mana kesesuaian alat ukur tersebut dengan tujuan dibuatnya. Contohnya  saat melakukan penyusunan instrumen kematangan emosi  maka perlu dilakukan uji validitas untuk melihat apakah instrumen yang disusun benar mengahasilkan skor kematangan emosi (Arikunto, 2010). Selain validitas internal juga ada validitas isi dimana pada uji ini akan melihat sebarapa jauh soal yang dibuat sesuai dengan teori yang digunakan (Azwar, 2009).

Definisi Reliabilitas

Reliabilitas sendiri bermakna konsistensi dan kestabilan suatu alat ukur dalam mengukur objek yang akan diteliti, sehingga hasil dari pengukuran bisa dipercaya (Sugiyono, 2009). Reliabilitas terdapat tiga macam pendekatan yaitu ; tes-ulang test ulang (test-retest), pendekatan bentuk – pararel (parallel –form), dan pendekatan konsistensi internal (internal consistency). Pendekatan test-retest merupakan suatu pengujian reliabilitas dengan cara menyajikan dua kali tes pada subjek yang sama. Sedangkan Bentuk-pararel merupakan pengujian validitas dimana dua instrumen digabungkan jadi satu untuk dibandingkan kestabilannya dalam melakukan pengukuran. Pengujian tidak harus menggabungkan dua instrumen menjadi satu, bila tidak memungkinkan pengujian bisa dilakukan dengan pemberian dua skala yang serupa dalam tenggan waktu sebentar (Azwar, 2009).

Daftar Pustaka

Abell, N., David, W., & Akihito, K. (2009). Developing and validating rapid assement instrument. New York: Oxford University Press

 Afshifar, J., Ali M., & Shahla. (2012). Validation of goldeberg’s scale in academic and non-academic peoples. Annals of biological research. 3(9) 4564-4573.

Anastasi, A., & Susana, U. (2007). Tes psikologi. Jakarta: Indeks

 Anzwar, S. (2009). Reabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Sugiyono. (2007). Statistiak untuk penellitian. Bandung: Alfabeta

Komentar

Tips Memlih Jurusan