Memahami istilah VTBs (Violents True Beliver)
Perkenalan
Jagad publik kini di
hebohkan dengan seorang santri yang dipaksa menikah dengan orang yang sudah
bersuami tanpa ada persetujuan orang tua. Berita ini menjadi banyak perhatian
karena santri di ketahui masih berusia di bawah umur, dan kejadian penikahan
itu sudah berlangsung selama kurang lebih 1 tahun. Banyak asumsi-asumsi yang
berkembang tentang alasan mengapa sang anak enggan bercerita masalanya kepada
orang tua. Meskipun anak memiliki kesempatan untuk bercerita,padahal dia
mengangku bahwa penikahan itu merupakaan paksaan dan di dasari atas rasa
kasihan. Banyak tuduhan bahwa si anak sudah mengalami VTBs dimana dia di
doktrin untuk mempercayai sesuatu hingga muncul sikap rela melakukan apapun.
Bagi saya masih terlalu awam untuk meneggakkan diagnosa VTBs pada korban karena
tidak ada tindakan ekstream yang dilakukan. Korban disini seolah tidak punya
kuasa untuk melaporkan apa yang terjadi pada dirinya.
Definisi
Lalu apa definisis dari
VTBs ( Violents True Belivers)? Mengapa ini menjadi perhatian banyak orang
sehingga FBI melakukan kajian yang amat dalam terhadap masalah ini. Masih lekat
di ingatan kita kasus pengeboman di Bali yang menewaskan banyak orang atau
kasaus robohnya gedung WTC atau yang di kenal dengan “nine eleven”. Pelaku disebut
dengan istilah VTBs sehingga mau melakukan apapun demi tercapainya tujuan. VTBs
adalah Individu yang berkomitmen pada sebuah ideology atau sistem kepercayaan
dimana pengorbanan diri meruppakan sebuah prestasi guna mencapai tujuanya
(Meloy, Reid J. 2004). Pelaku merasa bahwa tindakanya adalah benar dan legal
guna mencapai tujuan dari organisasinya.
Memahami Sistem Kerja Otak
Seperti yang kita ketahui
bahwa setiap manusia di bekali dengan sebuah organ yang memiliki fungsi vital
luar biasa. Otak manusia memiliki kemampuan yang sampai saat ini masih terus di
teliti fungsinya, cara kerjanya dan batasanya. Ibarat sebuah spons otak akan
menyerap informasi apapun yang membedakan adalah kemapuan kita untuk melakukan
recall ingatan. Ada ingatan yang mudah di panggil kembali, ada ingatan yang
sulit di panggil. Semua bergantung pada jenis informasi, kondisi tubuh, latihan
dan faktor lainya. Otak manusia cenderung akan mengingat sesuatu yang sering di
ulang, seperti nomer hp, tanggal lahir,
alamat, nomor pin dan lain sebagainya. Otak manusia juga akan lebih mudah
mengingat tentang kejadian yang membahagiakan atau menyedihkan, kejadian yang akan
membekas pada Indivdu tersebut. Pada Individu yang mengalami VTBs biasanya
sudah terpapar informasi, informasi yag bersifat berulang, kuat dan mengikat.
Sehingga informasi yang diterima berubah menjadi pola pikir, pola pikir berubah
menjadi ideologi atau keyakinan, ujunganya keyakinan akan berubah menjadi
prilaku. Imbalan kuat bisanya akan di kaitkan dalam menguatkan tertanamanya
sebuah informasi.
Punsiment
dan
Reward
Dua aspek yang turt
memperkuat sebuah informasi begitu dahsaya tertanam dalam otak adalah adanya system
punishment dan reward. Seperti kita ketahaui secara fritrah atau secara
nalurian setiap manusia menyukai sesuatu yang menyenangkan dalam bentuk hadiah,
dan akan menjauhi sesuatu yang menyakitkan seperti hukuman. Konsep ini sering
kita temui di saat sedang melakukan modifikasi prliaku pada kejadian
penyimpangan prilaku dalam dunia psikologi.
Sehingga menjadi formula
yang tepat untuk menanamkan sebuah keyakinan dimana individu mendapatkan
informasi yang berulang, mendapat tekanan dari figure otoritas, disertai dengan
adanya hukuman dan imbalan. Bayangkan saja jika seorang individu secara terus
menerus mendapat hal yang sama maka bukan sebuah hal yang sulit membuat
seseorang mengakui hal yang salah adalah benar.
Sumber : Meloy, Reid J.
2004. Indirect Personality Assessment of
the Violent True Believe:
Journal of Personality Assessment,
82(2), 138–146

Komentar
Posting Komentar