KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PENERAPAN MODIFIKASI PRILAKU PADA ANAK


A.     Pembukaan

Temper tanturum, perilaku indisiplier, agresif verbal maupun non verbal, merupakan sederetan permasalahan yang di hadapai anak pada usia dasar. Hal ini umum terjadi, banyak dari orang tua yang datang ke ruang konsultasi dengan keluhan serupa. Orang tua mersaa kesulitan mengontrol kebiasaan menyimpang anak mereka meskipun mereka sudah menerapkan pola asuh yang benar. Sebelum kita masuk ke dalam beberapa teori tentang parenting mari kita buka wadah ilmu kita sehingga bisa menerima semua informasi sesuai porsinya. Anak merupakan mahluk hidup yang bergerak dan berkembang. Setiap anak memiliki karakter, kondisi lingkungan, social budaya, kondisi ekonomi yang berbeda. Ada kondisi dimana satu modifikasi prilaku sukses dilakukan, tetapi ada yang tidak bekerja dengan baik bahkan ada yang gagal.

Kondisi kedua yang perlu di sikapi dengan bijak adalah tentang harapan versus realita, harapan orang tua dan realita di lapangan. Terkadang orang tua memiliki harapan, yang harapan tersebut di pengaruhi oleh keinginan dan ekspetasi orang tua. Tetapi sang anak gagal mewujudkan harapan tersebut atau gagal paham akan harapan prilaku yang di ingnkan oleh orang tu. Pada pembahasan kali ini kita akan berfokus untuk membahas terkait belum disiplinya anak meskipun sudah mengikuti teori modifikasi prilaku.

B.      Teori

Teori modifikasi prilaku yang paling popular menganut aliran psikologi behavioristik, aliran dimana mempercayai bahwa prilaku sesorng di tentukan oleh pengalaman, stimulus dan responya. Kita mengenal perobaan B.F Skiner yang mengkondisikan prilaku merpati dengan hadiah dan hukuman. Teori ini banyak di adopsi oleh banyak kalangan, baik kalangan akdemis maupun dalam dunia parenting. Modifikasi prlilaku merupakan langkah paling kongkrit dan mudah di terakkan oleh berbagai kalangan dalam perubah prilaku.

Pendapat lain di kemukakan oleh Throndike bahwa selain stimulus dan respon ada juga hukum kesiapan (Law Of Readiness). Menurutnya prilaku manusia terbentuk dari kesiapan individu tersebut dalam memproses pembelajaran dalam hidupnya. Meskipun ada metode hukuman dan imbalan tetap individu tersebut harus siap belajar terlebih dahulu agar bisa menerima semua indormasi dan merubah prilakunya.

C.      Kesalahan Umum

Modifikasi prilaku pada pengasuhan merupakan perkaran yang unik, terkadang mudha di terapkan terkadang sulit diterakkan. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering terjadi pada modifikasi prilaku.

1.       Kurang mengenal tahapan perkembangan manusia (life span)

Terkadang banyak orang tua ingin melakukan yang terbaik, dan ingin anaknya menjadi yang terbaik. Sehingga cenderung grasa-grusu dalam menerapkan teori parenting, seperti menerapkan kedisiplinan. Orang tua merasa gagal saat anak tidak mau membereskan mainanya, meskipun sudah menggunakan teori parenting komunikasi efekif tetapi tetap anak tidak mau menurut. Padahal bukan teori yang tidak bekerja tetapi orangg tua kurang paham tahapan perkembangan.

Kurangnya informasi terkait tahapan perkembangan akan berdampak tidak baik pada pola asuh seseorang. Contoh anak ingin disiplin, mama terus memerintah, tapi mama lupa bahwa si anak masih di tahapan pra operasional. Tahapan dimana pembelajaran paling efektif adalah dengan mencontohkan, mengajak anak secara langsung melakukan, secara langsung menunjukkan apa yang harus diperbuat dengan bahasa yang di mengerti. Jadi jika ingin anak merapikan mainan maka tunjukkan di depan mereka kita mengambil dan meletakkan mainanya di tempat seharusnya, dan ajak anak memungut mainanya. Di sini baru kita jelaskan mainan harus di letakan di tempatnya, jika tidak mau membereskan maka mainnya tidak usah dikeluarkan. Jika hanya menggunakan kalimat perintah dan perintah itu di ulang terus menerus yang ada anak bisa melawan, atau bahkan anak tidak paham isi dari perintah kita.

Tentunya pola ini tidak bisa di terapkan pada anak usia pubertas, jika kita terlalu menuntun dan membimbing anak maka anak akan mernggap kita kurang menyenangakan, bahkan mereka akan menganggap kita terlalu mengatur.

2.       Harapan Versus realita

Banyak orang tua mengeluh terkait anaknya yang masih belum terbiasa bangun pagi, membersihkan kamar, mengerjakan tugas sekolah, menjalankan ibadah. Bahkan terkadang orang tua berharap sudah mampu mengerjakan semua hal tersebut tanpa perintah. Namun pada kenyataanya anak sulit melaksanakan hal tersebut. Hal ini membuat orang tua harus menasehati yang ujung-ujungnya memarahi anak.

3.       Mengulang-ulang

Sering kali dalam memberikan intruksi orang tua cenderung tidak sabaran dan mengulang-ulang. Belum lagi di bahas kesalahan yang lalu dalam memberikan instruksi, hal ini membuat anak akan merasa jenggah dan tidak mendengarkan kita.

4.       Pemberian hukuman dan hadiah yang tidak efektif

Pemberian hukuman dan hadiah juga sering terjadi kesalahan, hukuman di sisni bersifat seolah ancaman bukan untuk menghlangkan prilaku. Seperti mengatakan kalau tidka nurut nanti mama suruh berdiri di loteng. Hukuman tidak di sertakan dalam merespon prilakunya melainkan sebuah ancaman. Jika pola terjadi terus menerus maka anak akan merasa biasa saja, hilang rasa.

5.       Tidak Konsisten

Ketegasan di perlukan dala metode ini, sifat yang tidak konsisten sering muncul saat modifikasi prilaku. Terkadang bisa terlalu berkompromi, tapi di sisi lain terlalu ketat. Konsisten dan ketegasan yang berubah akan merubah pemikiran anak.

D.      Tips

Pada pembahasanya sebelumnya bahwa salah satu kunci dari modifikasi prilaku selain pemberian hukuman dan hadiah adalah melihat kesiapan. Kesiapaan anak belajar menjadi penting dengan memperhatikan tahapan usia perkembangan. Menimbang dan menelaah apakah anak sudah siap menggunakan metode seperti ini

Komunikasi efekteif secara tepat menjadi kunci utama, anak perlu mendapatkan penjelasan mengapa dia mendapatkan hukuman. Cara berkomunikasi juga menyesuaikan usia, anak usia di bawah 5 tahun perlu bahasa sedehana dan contoh, anak usia 6-10 tahun perlu ketegasn, usia di ata 11 tahun perlu diperlakukan sebagai patner. Biasanya krisis akan terjadi pada usia 11 tahun keatas dimana anak sudah mampu berpikir kritis.

Terakhir konsisten dalam menjalankan, ingat ketegasan bukan ancaman,  dan ingat ketegasan bukan berarti kita tidak sayang. Terkadang orang tua merasa sulit menegakkan kedisiplinan karena merasa tidak tega dan terlalu sayang.

Komentar

Tips Memlih Jurusan