Fakta Genarasi Z
Pembukaan
Benarkah saat ini banyak anak muda yang mengalami masalah dengan kesehatan mentalnya? apakah tuntutan saat ini begitu kuat sehingga membuat kaum muda harus berjuang di masa yang sulit? apakah masa sulit yang di hadapi angkatan gen Z saat ini jauh lebih berat di banding dengan angkatan sebelumnya?. mari kita berbicara data dan penelitian terkait yang menjelasakn masalah ini. Selama periode tahun 2022 tercatat 1 dari 20 remja menderita masalahan dengan kesehatan metalnya, berati 5,5 persen dari populasi remaja yang berusia 10-17 tahun.
(https://rsj.acehprov.go.id/berita/kategori/artikel/krisis-kesehatan-mental-menghantui-generasi-z-indonesia#:~:text=Survei%20terbaru%20I%2DNAMHS%20(Indonesia,dengan%20gangguan%20jiwa%20(ODGJ).
Survey dilakukan pasca pemberlakukan PPKM dan pandemi usai, menunjukkan sejumlah remaja mengalami gangguan kesehatan mental, angka ini cukup besar mengingat jumlah penduduk Indonesia saat ini yang di dominasi para remaja. Banyak faktor yang melatarbelakangi tingginya angka ini, disebut-sebut kondisi pembatasan saat wabah virus covid menyerang menjadi salah satu penyebabnya. Kurangnya interaksi anak dengan dunia membuat mereka merasa terisolasi dan kurang adanya penyaluran energi untuk berekspresi. Sejumlah langkah coba dilakukan untuk mencoba memperbaiki keadaan, mulai dari pembelajaran jarak jauh, hingga maraknya Zoom meeting. Namun apakah kondisi ini terus bertahan dan menyebabkan banyak gangguan kesehatan mental sampai tahun 2024?.
Pembahasan
Pada dasaranya manusia di ciptakan dengan berbagai ragam alat untuk mempertahanakan diri baik secara anatomi tubuh maupun pskologi. Jika kita mengetahui untuk mencegah tersedak tenggorokan mengatur lalu lintas makana sedemikain rupa, maka manuasiapun memiliki kemampuan untuk segera bangkit dari keterpurukan yang menimpa dirinya (Resilience). Pada era digital ini membuat semua orang mudah mendapatkan informasi apapun dari media sosial termasuk kesadaran akan kesehatan mental. Media juga menfasilitasi para penggunananya untuk membagiakan perasaanya, dengan sekali sentuhan membuat kita bisa membagikan apa yang dirasakan, bahkan apa yang kita lalui. Kemudahan inilah yang menjadikan permasalahan pada seseorang semakin rumit, alih-alih mendapat dukungan dari kemalangan yang menimpanya, individu malah banyak mendapat hujatan dan kritikan.
Kemudahan informasi inil juga membuat banyak dari remaja yang melakukan self diagnosis, berbekal info yang di dapat dari media sosial, mereka lalu malebeli perasaanya dengan penyakit psikologis. Penyakit yang harusnya di tegakkan oleh profesional serta di teggakkan melalu serangkaian assesment. Naasanya para pengguna media hanya tinggal comot penjelasan-penjelasan singkat dari media. Padahal seperti yang kita ketahui semua orang bisa menjadi konten kreator, meskipun dia tidak memliki keilmuan di bidang tersebut, dan yang paling parah adalah konten yang di buat berdasarkan pemahaman awam tanpa ada riset dan pemahaman sebelumnya.
Bahaya
Kenapa self diagnosis menggiring seserorang berakhir pada gangguan kesehatan?yang perlu di pahami otak itu cerdas, dia bergerak sesuai dengan keyakinan, sementara tubuh bergerak karena perintah otak. Coba bayangkan jika ada anak dengan gampang melabeli dirinya depresi, sentara definisi depresi yang dia pahami adalah kesedihan berkelanjutan tanpa tertarik dunia luar. Maka secara otomatis keyakinan tersebut akan diterjemahkan oleh otak sebagai ancaman, dan otak akan memerintahkan tubuh begerak sesuai dengan kondisi saat itu untuk melindungi diri (Self defense mechanism). Self diagnosis ini sering muncul di ruang konseling dimana konselee langsung mengvonis dirinya menderita sesuatu tanpa ada pengatahuan yang mumpini.
Alasan kedua kenapa banyak remaja bermasalah dengan kesehatan mentalnya karena kini aktivitas sosial di dunia nyata cukup jarang diminati, mereka terlalu terpaku pada layanan yang diberikan oleh provider game online, komik online, atau aplikasi-aplikasi lainya. Konsep bertemu, berbicara, bercanda sekarang jarang dilakukan. Pernah saya menjumpai sekumpulan anak kecil yang berkumpul dengan hp masing-masing dan mabar dengan hpnya. Mereka hanya fokus pada permaian dengan mengeluarkan kata-kata buruk yaang menggabarkan kondsi permainan. interaksi sebatas dia dan hp, padahal mereka bisa saja bisa berbicara secara langsung dan memainkan hal yang seru lainnya. Banyak sekali remaja saat ini sulit untuk berbicara di depan umum, atau berbicara dan memperhatikan lawan bicaranya. Kemajuan teknologi ini sebenarnya memiliki dampak positif, kini banyak anak remaja memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi. Namun ketimpangan dalam penggunaan ganget turut memperngaruhi ketahanan seseorang dalam mengahadapi masalah (daya Resilience).
Alasan ketiga mengapa remaja saat ini menjadi rentan terkena kesehatan mental adalah peran dari orang tua. Banyak sekali orang tua yang gegabah dalam membantu menyelesaikan masalah anak, atau banyak orang tua tidak memberikan kepercayaan pada anak untuk menyelesaiakn malasahnya. Anak tidak dia ajarkan untuk menemukan problem solving, hal ini juga sedikit banyak pengaruh dari ilmu parenting yang kurang lengkap.
Kurangnya komunikasi akan memperparah, sehingga anak menerjemahkan orang tua selalu menuntut pada anak, padahal orang tua ingin yang terbaik. Kehadiran orang tua sangat penting bagi anak remaja, dibarengi dengan memberikan kepercayaan pada mereka dalam mengambil keputusan. Seperti bermain layang-layang sistem tarik-ulur jika terlalu di tarik akan putus tapi terlalu kendor akan tidak terarah terbangnya. Setiap orang tua harus mempersiapkan anaknya menjadi tangguh, siap mengahadapi dunia dengan kebijaksanaanya. Semua itu mustahil di dapatkan tanpa adanya latihan, arahan dan kepercayaan dari ornag tua.
Alasan terkhir adalah ketidak stabilan kondisi saat ini terutama saat kejadian yang mendadak dan cepat seperti pada saat covid. banyak remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental Ketidak stabilan ekonomi, besanya tuntutan hidup, ketakutan anak dalam mendapat penghidupan yang layak juga turut berkontribusi pada kesehatan mental mereka. Pertanyaan terakhir apakah generasi sebelumnya tidak mendapat tekanan yang sama? jawabnya generasi sebelumnya juga mendapat masalah dan tekana yang sama dalam bentuk yang berbeda. hanya saja sat ini mereka jauh lebih bisa merasakan tekanan .
Solusi
Salah satu lagkah utama yang bisa dilakukan adalah bekerja sama atar berbagai pihak, pemerintah, sekolah, dan rumah. Pemerinat memiliki peran dalam meregulasi aturan agar masuknya game online bisa di batasei, pemerintah juga memiliki peran dalam membuat sistem pendidikan yang jauh lebih baik. Sekolah sebagai rumah kedua anak memiliki sumbangsih untuk mendidik anak sebagai perpanjangan tangan orang tua. peran sentral orang tua dalam mendidik anak mutlak di butuhkan, orang tua tidak bisa sepenuhnya pasrah pada sekolah dan bersifat abai terhadap tumbuh kembang anak.

Komentar
Posting Komentar