Enuresis pada Anak
Enuresis atau biasa disebut
dengan mengompol di malam hari merupakan hal yang umum terjadi pada anak
balita. Kebiasaan mengompol hampir terjadi pada semua anak di belahan bumi
manapun, penelitian mencatat bahwa pada tahun 1993 sekitar 5 juta anak di
Amerika mengalami enuresis nokturnal (disadur dari
: https://www.scirp.org/journal/paperinformation?paperid=101805). Enuresis adalah
mengompol atau pipis di kasur saat tidur pada malam hari dan terjadi pada usia
5 tahun . Hampir setiap anak dan keluarga mengalami kejadian ini, kejadian
ringan yang cukup mengnggangu kondisi keluarga. Mengapa demikian mengompol di
malam hari membutuhkan tenaga ekstra dalam hal pencucian, hal ini mampu
menguras tenaga dari para orang tua dalam pengasuhan. Enuresis terjadi
karena kurangnya kemampuan anak dalam mengontrol keluarnya air kencing terutama
di malam hari. Kemampuan kontrol yang belum berkembang secara sempurna ini di
sinyalir menjadi penyebab seseorang mengalami enuresis. Enuresis di
katakan normal bila terjadi selama 2-3 kali dalam seminggu, selama 3 bulan.
Bagi anak yang mengalami enuresis selama 6 bulan dan berusia lebih dri 5 tahun
maka di sebut dengan primary enuresis. Sedangkan bagi yang
mengalami enuresis selama 6 bulan di ikuti dengan gejala ketidak mampuan untuk
mengelola kandung kemih maka di kategorikan bahaya. Enuresis sering
kali menjadi permasalahan sosial dimana anak menjadi kurang percaya diri karena
merasa malu dan gagal dalam mengelola kandung kemihnya. .
Penyebab Enuresis
Enuresis disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya adalah faktor genetik dimana anak memilik komorbid
dan ketidak matangan dalam mengatur sistem kandung kemih. Faktor
pengasuahn yang salah juga menyebabkan anak mengalami mengompol. Secara
medis enuresis juga di assosiasikan dengan adanya beberapa
penyakit seperti berikut
1. Diabetes insipidus.
2. Kecilnya ukuran kandung kemih.
3. Kandung kemih yang terlalu aktif.
4. Ureter yang tidak terhubung dengan benar (ectopic
ureter).
5. Konstipasi atau gangguan pencernaan.
6. Adaya peradangan pada kandung kemih.
7. Adanya hambatan pada saluran ureter.
Ciri-ciri gangguan Enuresis
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
mengeggakkan seorang anak mengalami gangguan enuresis atau tidak.
Pemeriksaansecar medis perlu dilakukan guna mengetahui kondisi anak dalam
keadaan baik. Namun jika secara medis tidak ada keadaanya yang mendudkung
munculnya enuresis maka orang tua perlu mencari bantuan pengangan.
Menurut DSM V ada beberapa kriteria seorang anak diyatakan mengalami
gangguan enuresis, berikut diantaranya:
- Mengalami
periode mengompol secara berulang, seperti penjelasan sebelumnya.
- Kebiasaan
itu muncul setidaknya 2 kali seminggu dalam 3 bulan pengamatan.
- Prilaku
mengompol muncul setidaknya di usia 5 tahun.
- Tidak
ditemukan adanya penyakit medis
( Disadur dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545181/)
Pengangan Enuresis
Evaluasi kondisi medis perlu dilakukan guna
menyakinkan apakah mengompol ini karena kondisi medisnya atau ada gangguan
lain. Terdapat beberapa pendekatan dalam penanganan, yang paling penting adalah
menekankan bahwa perlu adanya dukungan semua pihak agar efektif. Pastikan
kondisi gangguan secara medis disebuhkan dahulu. Penanganan yang paling umum
biasanya menggunakan pendekatan modifikasi prilaku, dengan menggunakan
sistem reward dan punishment. Terapi juga di
lakukan dengan meneggakkan kedisiplinan pada anak terutama mengawasi secara
ketat jumlah asupan air minum, anak biasanya dilarang minum 2 jam sebelum jam
tidur. Pada kasus tertentu biasanya penggunaan obat akan dilakukan guna
membantu anak dalam mengendalikan kandung kemihnya. Terapi ini biasanya
digunakan bila ditemukan adanya kormorbid medis yang perlu segera
diatasi.

Komentar
Posting Komentar