Hebatkan Anak Untuk Mengahalau Si Bully

    Judul yang cenderung provokatif kali ini sesungguhnya untuk menjawab kegelisahan para orang tua belakangan ini. Istilah bullying atau perundungan memang santer terdegar sejak lama, dan peristiwa perundungan ini juga sudah serng terjadi. Namun akhir-akhir ini kejadian demi kejadian lebih sering terdengar, lalu apakah di zaman dahulu Bullying tidak pernah terjadi? Apakah benar adab dan prilaku anak zaman sekarang semakin parahnya sehingga menormalisasi tindakan bullying? mari kita Bahasa satu persatu. Bullying atau kita mengenalnya perundungan sudah terjadi berabad-abad lamanya, buktinya setiap cerita para nabi pasti mendapati banyak pembeci dalam menyampaikan ajaranya. Lalu apakah benar bullyng saat ini jauh lebih parah? Jawabnya tentu tidak bahakan Rasulullah sendiri pernah di lempari kotoran. Pasti pembaca sekalian akan mengatakan ya itu cobaan level Nabi bagaimana dengan kita manusia biasa. Bukankah Albert Einstein juga pernah di bully karena  terlambat bicara dan sulit mengikuti pelajaran. Eisntein kecil selalu mendapatkan nilai rendah dan pembangkan, dia hanya mau mengerjakan yang di sukai, sulit mengikuti pelajaran yang membuat teman sekolah sering membullynya. Sehingga dapat di ambil asumsi bahwa sejak dahaulu pembullyan sudah terjadi. 

    Beralih pada pertanyaan selanjutnya apakah pada zaman dahulu pembulian begitu massivnya sama seperti saat ini? Itu pertanyaan ini kita perlu melakukan kajian ulang tapi yang jelas ada satu factor yang bisa jadi menjadi bahan kita dalam berasumsi yaitu gadged. Pada zaman dahaulu orang masih sangat kesulitan mengkases informasi, informasi biasanya akan di dapat melalaui koran, itu pun hanya kejadian besar saja. Berbeda dengan sekarang dengan satu sentuhan kita bisa mengakses informasi apapun termasuk berita yang sedang viral. Hal ini bisa jadi membuat kasus pembullyian semakin sering terjadi karena sifat dasar manusia adalah mencontoh, ingin di akui dan melampiaskan. Dari sini kita melihat factor pendukung seseorang atau suatu kelompok melakukan pembullyan terbuka, yaitu banyak anak yang mencontoh pembullyan yang sedang viral, tujuan macam-macam tapi yang paling dominan adalah mencari pengakuan, bahwa dirinya superpower. Selanjutnya pelampiasan, studi menunjukkan bahwa anak yang melakukan pembulian sebagian besar memiliki masalah di keluarganya salah satunya adalah kekerasan yang dilakukan orang tua. Karena si anak tidak mampu membalas perlakuan orangtuanya maka mereka mencari pelampiasan di lingkungan yang bisa dia kendalikan. Hal ini di tambah dengan game online yang menyajikan berbagai level kekerasan yang menjadi stimulus bagi anak untuk meniru apa yang dia lihat.

    Lalu bagaimana agar anak tetap bisa bergaul tanpa rasa khawatir akan menjadi korban bullying? Maka kita harus mempersiapkan menghebatkan anak kita. Belajar dari kasus Einstein dimana saat bayi dia terlambat berbicara, orang tua mencarikan pengobatan terbaik dan dengan tulus mengajari Einsten. Di saat dia bersekolah dan sering mendapat nilai buruk ibunya selalu mengatakan bahwa ada sesuatu yang yang istimewa di dalam dirimu. Perkataan ini yang terus memacu Einstein untuk menjelajahi kemampuanya, mendorong dirinya menemukan hal yang Istimewa sehingga dikenal sebagai Ilmuwan sepanjang masa.

    Ayah, bunda sekalian hal ini terlihat mudah tapi pada praktenya sangat sulit, yaitu membuat anak percaya diri, mampu bertindak tanpa mudah dipengaruhi orang lain, sertberni mengambil keputusan untuk membela dirinya. Kemampuan ini penting untuk menghalau para pembully yang senantiasa akan muncul dimana saja. Dalam rangka menghebatkan anak maka anak untuk mengahalu si bully, maka anak perlu yakin akan tindakanya, memiliki keberanian dalan mengambil tindakan. Sifat ini tidak bisa muncul hanya dengan mengatakan pada anak untuk tetap percaya diri melainkan dilatihkan. Coba bayangan bagaimana bisa anak bisa percaya diri kalu kita saja selalu meremehkan kekuatanya dan kemampuanya. Rasa saying dan khawatir yang berlebihan membuat kita terlalu jauh ikut campur dalam pendewasaan anak. Seperti hal sepele saat anak sedang kesulitan membuka tutup botol minumnya, sebagian besar kita merasa tidak sabar dan segera membantunya. Padahal dari hal kecil ini anak bisa mengembangkan problem solvinngnya, kemampuan motoriknya dan kemampuan mengambil keputusan. Problem solving muncul di saat aank kesulitan dia akan mencari cara untuk membuka tutup botol ini, kemmapuan motorik akan terasah di saat anak dengan tangan mungilnya berusaha membuka tutup botol. Sedangkan kemampuan pengambilan keputusan akan terasah di saat dia sudah berusaha tapi belum terbuka, dia akan memilih menyerah membuka tutupnya atau mencari bantuan. Pada tahapan ketiga inilah seharuhnya kita mulai bertindak, tetapi kita biasa mengintervensi proses pendewasaan anak.

    Menanamkan rasa percaya diri di mulai memberikan tanggung jawab kecil atau permasalahn kecil pada anak, biarkan dia berusaha menyelesaikanya saat sudah sukses baru kita apresiasi. Jika gagal kita beri penguatan dan penjelasan. Saat melihat anak kita berkelahi apa yang harus kita lakukan? Melerai? Memarahi anak orang lain? Atau mengawasi dari kejauhan?. Jawabanya adalah awasi selama tidak melakukan kontak fisik yang berbahaya dan tidak berkata kasar biarkan. Mungkin terdengar sadis tapi dari latihan sederhana ini anak akan menemukan cara menyelesaikan permasalahanya, dan anak akan memiliki keberanian membela kepentinganya. Sisanya saat sudah tenang validasi pemikiran dia dan perasaan dia terhadapt konflik yang di alami, ajak anak berfikir dan memaafkan, meminta maaf jika dia yang bersalah. Dari latihan-latihan sederhana ini diharapkan bisa memupuk keberanian diri dan kepercaayan diri, sehingga dia tidak mudah di intimidasi orang. Satu hal kebiasaan yang perlu ditanamkan jangan selalu meminta anak untuk berbagi ada hal yang perlu di bagi, ada hal yang itu hanya miliknya. Sehingga dia terbiasa membela miliknya dan mampu mengatakan tidak pada hal yang tidak baik. Diakhir keterbukaan perlu ditanamkan, komunikasi dua arah terus dilakukan. Ajarkan anak untuk terbuka terhadap apa yang terjadi, serta  tidak ragu  untuk meminta bantuan, artikel selanjutnya akan membahas mendampingi anak yang di bully.

 

Komentar

Tips Memlih Jurusan