Belajar dari kisah : "Ucapan adalah doa"
Pesan untuk semua ibu awasi ucapanmu karena dari lisanmu seseorang sedang
dibentuk, bukan berlebihan tapi ini sebuah keharusan, kenapa? Mari saya
ceritkan. Suatu hari seseorang mendatangi saya dalam rangka konseling, di awal
dia selalu mengatakan kenapa saya tidak bisa berbicara di depan umum, mengapa
saya selalu gugup saat harus presentasi. Pertanyaan saya saat itu coba
ceritakan apa yang terjadi padamu saat itu. Gadis itu menceritakan setiap kali
dia harus maju untuk berbicara di depan umum, mendadak dadanya terasa sesak,
tangan gemetaran dan semua yang dipelajari mendadak hilang. Saya bertanya
apakah itu muncul setiap saat? Atau ada momen lain gemetaran itu muncul. Dia
menjawab iya selalu muncul hanya berbicara di depan kelas saja membuat saya
merasa tidak nyaman. Saat berbicara di depan ibu begini apakah terasa
gemetaran. Anehnya tidak tapi sebelum masuk tadi saya merasakan gemetaran dan
takut melakukan kesalahan. Begitulah kutipan percakapan saya dengan si gadis,
jika anda amati apakah hal ini normal terjadi? Apakah seseorang biasanya gugup
saat maju berbicara di depan umum? Apakah ini hal normal ataukah kejadian yang
abnormal sampai harus di diagnonasa gangguan kecemasan?. Simpan semua
pertanyaan terlebih dahulu mari kita lanjutkan kisah ini dan kita akan
menemukan bagian mana yang salah. Dari percakapan awal ada kata kunci yang bisa
dikembangan dari si anak gadis yang tercetus yaitu saya takut melakukan
kesalahan, disini percakan dikembangkan.
Gadis itu bercerita selama ini hidupnya Bahagia, orang tua memiliki
pekerjaan yang tetap, tidak ada masalah dengan ekonomi, keluarga sangat
perhatian dengan dirinya. Sejak kecil si gadis mengikuti berbagai hal yang
mengembangkan kemampuan milik dirinya. Lalu apa hubungana kehidupan sehari-hari
dengan permasalahan tidak percaya diri? Karena dari kehidupan sehari-hari ini
kita akan memperoleh jawabnya. Si gadis hidup di kalangan akademisi, Dimana
anak dari om dan tante, pak de maupun bude memiliki jenjang Pendidikan yang
sama. Bahkan kedua orang tuanya mendapatkan Pendidikan yang terbilang
tinggi, berkuliah di jurusan yang banyak di minati orang. Pasti anda akan
menuduh mungkin si anak merasa takut melakukan kesalahan karena orang tua
selalu menekankan nilai baik. Bukan, orang tuanya bahkan tidak pernah menuntut
si anak untuk mendapatkan nilai baik, orang tuanya justru sering memberikan
motivasi kepada si anak untuk tetap berusaha, bahkan tidak pernah sama sekali
memarahi si anak. Lalu apa masalahnya? Kenapa si anak sampai merasa takut membuat
kesalahan? Apakah karena keluarga besar yang sering membully?.
Jawabanya juga bukan karena cenderung mereka jarang bertemu kecuali di
hari besar. Tetapi ada satu hal yang mungkin kita anggap hanya sangat sepele,
atau kita anggap itu hal yang positif tapi berdampak kurang baik. Saya berdoa
kepada seluruh ibu di dunia semoga Allah balas semua kebaikan dan dedikasi ibu
di dunia ini. Kenapa begitu karena pekerjaan ini luar biasa besar dan sulit,
tidak berlebihan kenapa sampai Allah menyebut surga dibawah telapak kaki ibu karena saking sulitnya. Dari kisah si gadis menceritakan, ibunya dan ayahnya tidak
pernah sama sekali menyalahkan apalagi menuntut si anak untuk tampil sempurna,
tetapi sejak kecil saat di bercerita tentang nilainya yang kurang baik, atau
hasil belajarnya kurang maksimal, si ibu selalu mengatakan pada si anak “ Ibu
yakin besok kamu akan mendapatkan nilai lebih baik lagi”. Pertanyaan salahnya
Dimana? Bukankan itu kalimat penyemangat? Bukankan hal itu yang akan
membantunya memotivasi secara kalimat juga positif. Ingat tidak semua anak
sama, tidak semua yang terceritakan disini bisa diambil dan ditiru oleh semua
orang, hanya saja ada kasus seperti ini dan ini terjadi nyata. Dari kalimat si
ibu si gadis merasa bahwa besok di harus mendapat nilai lebih sempurna lagi,
bahwa dia tidak boleh melakukan kesalahan dan kebodohan yang sama, saya harus
lebih baik lagi. Pasti pembaca akan berkata loh itu baik anak jadi semangat?.
Benar si anak menjadi sangat semangat sampai over. Dia berusaha memacu
dirinya lebih dan lebih jauh dari kapasitas dirinya, bahkan harus sempuna. Si
gadis berfokus untuk mendapat nilai sempurna bahkan dia tidak bisa mentolelir
nila 89 dari 100, dia mengerjakan setiap tugas sekolah sampai larut malam.
Karena ingin terlihat sempurna dia tidak bisa tampil di depan umum, baginya
saat melakukan kesalahan di depan umum kita tidak bisa mengulang kembali. Dari
sanalah perasaan gugup muncul setiap kali maju ke dapan, dia takut terlihat
tidak sempurnua. Ditambah si gadis sering kali mendengar pencapaian
saudara-saudarnya yang luar biasa, atmosfer persaingan ini tidak sengaja
terbentuk dan menambah tekanan bagi Ananda. Terlebih orang tua tidak pernah memarahi, diamnya sikap orang tua saat si gadis mendapat nilai buruk diartikan sebagai rasa kecewa yang amat dalam.
Mungkin bagi seseorang ini adalah hal yang biasa tetapi tidak bagi gadis
tersebut, ini masalah dan orang yang menggapnya aneh berati tidak bisa mengerti
dirinya dan dunia tidak menerimanya. Sampai disini bisa dipahami kenapa hal
yang mungkin kita anggap remah tapi memiliki dampak luar biasa bagi si anak
bahkan dikala kita tidak membentak si anak. Lalu apa yang salah dari respon ibu
saat anak bercerita? Perlu kita ketahui saat anak bercerita sebenaranya
kebutuhan apa yang ingin dipenuhi? Di dengarkan ceritanya? Betul si akan ingin
mengungkapkan perasaannya. Dimana dia sudah berusaha untuk menjadi terbaik tapi
hasilnya tidak baik. Tetapi si ibu lupa menvalidasi perasaanya si anak, apakah
di kecewa? Marah? Sedih atau perasaanya lainya. Mengapa ini penting bisa jadi
ada kisah lain saat kita mengeksplore perasaanya, bisa jadi dia di curangi temanya,
bisa jadi dia memperoleh perlakukan buruk dari temanya, bisa jadi dia
dipermalukan karena nilainya jelek ataupun ribuaan alasan lainnya. Anak butuh
mengungkapkan kekecewaanya, meluapkan apa yang dipendam baru kita minta untuk
bersikap realistis. Kita lupa tahapan tersebut dan langsung loncat pada tahapan
berdamai dan berubah menjadi lebih baik. Padahal si anak tau bahwa saat
berjuang lebih baik maka hasilnya akan maksimal. Tetapi yang anak butuhkan
adalah kehadiran kita, perasaan ikut dan turut serta dalam kehidupnnya, bahkan
ada perasaan juga ingin di menangkan, seperti kamu kemarin ibu lihat sudah
banyak membaca, itu sudah luar biasa ibu bangga padamu. Anak juga perlu
mendapatkan pengakuan terutama pengakuan dari ornag terdekatnya.

Komentar
Posting Komentar