Balada Mengajak si kecil ikut berjamaah di masjid
Menjadi keinginan semua orang tua bila si kecil tumbuh dengan mengenal agamanya, bukan hanya mengenal harapnya juga mengamalkan ajaranya. Mengenalkan agama sejak kecil merupakan keharusan yang perlu dilakukan agar anak terbiasa dengan setiap syariat yang diajarakan. Selain melalui pendidikan wajib orang tua biasanya mengenalkan dan membiasakan untuk mengenal agamanya bahkan di usia prasekolah. Mengajak anak mengikuti sholat berjamaah merupakan salah satu hal yang biasa dilakukan terutama bila ada moment tertentu seperti hari raya idul fitri atau mengikuti sholat tarawih saat ramadan. Namun beberapa masalah muncul ketika saat sholat berjamaan berlangsung anak menjadi tidak kondusif, mulai dari berlarian, merengek, menangis bahkan berteriak. Hal ini pasti akan menganggu jamaah lain, sehingga sering menjadi perdebatan. Di satu sisi jamaah ingin mendapatkan kekhusyuan dan di sisi lain orang tua ingin membiasakan ibadah pada anaknya. Keduanya memiliki alasan yang kuat dan mememiliki prioritas yang sama. Jamaah memerlukan suasana hening agar bisa khusyu sedangkan orang tua juga mengharapkan anaknya bisa terbiasa untuk melakukan ibadah. sehingga ada hal yang perlu diperhatikan sebelum mengajak anak kita untuk mengikuti jamaah di masjid.
Hal yang selalu di ingat sudah menjadi fitrah anak kecil selalu ingin tahu, ingin mendapatkan perhatian, ingin dilindung serta ingin memperoleh rasa aman. Sehingga sangat wajar jika anak biasanya memberikan respon yang berbeda di situasi tertentu, seperti menangis, berteriak, merengek, bahkan berlarian untuk mencari ibunya. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan sebelum mengajak anak kita berjamaah di masjid.
1. Observasi
Sebagai orang kita harus mengetahui prilaku dan kebiasaan anak kita, sehingga sebelum mengajak anak kita berjamaah ke masjid lakukan observasi, amanti perilaku anak, ukur seberapa lama anak bisa diam, cari hal apa yang bisa membuat anak kondusif. Dari hal ini kita bisa menilai dan bisa memprediksi apakah anak kita sudah siap apa belum, kita juga bisa memprediksi strategi apa yang bisa di lakukan agar anak bisa kondusi dalam jarak waktu tertentu. Perlu diketahui durasi anak usia batita bisa duduk diam fokus dengan satu hal berkisar 3-6 menit bisa lebih bisa kurang, lebihnya tidak melebihi dari 20 menit. Berdasarkan data ini kita bisa memprediksi seberapa lama anak bisa diajak kondusif selama jamaah berlangsung, sehingga data ini bisa digunakan untuk memilih di waktu sholat yang mana yang bisa digunakan untuk membiasakan anak.
2. Sounding
Setelah melakukan observasi di saat bersamaan juga lakukan sounding, jelaskan pada anak berulang-ulang kegiatan yang akan dilakukan, keharusan untuk tetap diam selama jamaah berlangsung bahkan pada sampai mengajak anak untuk mengikuti setiap gerakan. Hal ini dilakukan berulang dan terus menerus. Jangan berkecil hati bila anak tidak merespon penjelasan kita, selama kita terus menjelasakan dan mencontohkan berapapun usianya akan berdampak pada anak kita. Buktinya adalah bukankah anak kita bisa marasakan kalau pengasuhnya sedang menakuti, sedang marah, bukankah anak kita bisa merasakan kalau pengasuh sedang tertawa bahagia. Sama halnya dengan penjelasan dan gerakan yang kita tunjukkan ke anak. Bahkan kita sudah bisa menjelasakan tentang kegiatan sholat sejak anak berada di kandungan kita. Maka konsep yang sama bisa digunakan untuk menjelaskan terkait ibadah sholat.
3. Trying
Secara bersaamaan bunda juga bisa memulai untuk mencoba mengajak anak untuk sholat berjamaah bersama, secara bertahap anak dikenalkan dengan alat beribadah dan tetap berada di tempat saat sedang berjamaah. Saat sudah mulai kenal bunda bisa ajak anak berjamaah dengan pemilihan waktu sholat yang tidak terlalu lama.
4. Evaluasi
Tahapan terakhir berikan reward dan penguatan pada si kecil baik berhasil ataupun tidak. Semisal pada percobaan pertama anak masih belum bisa kondusif tidak mengapa tetap puji hargai kerja kerasnya dan beri penguatan. Jangan ragu untuk menghentikan sholat bila dirasa anak berada dalam keadaan bahaya atau sangat tidak nyaman. Jangan memarahi anak di depan jamaah lain, ajak di tempat pribadi baru evaluasi. Serta jangan memaksa anak untuk memahami dan mengikuti apa yang kita inginkan. Mulailah mengenalkan kebesaran Allah pada anak, tanamkan bahwa semua yang dia dapat bersumber dari Allah, karena Allah sangat sayang pada kita maka kita harus beribadah padaNYA. Tanamkan paham tersebut secara berulang sehingga anak muncul keimananya dan memanggil fitrah yang yang tertanam di dirinya yaitu fitrah menyembah ALLAH SWT.

Komentar
Posting Komentar